Waduk Kedung Ombo : Diluar Ekspektasi
Rabu, Januari 24, 2018
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Sering denger kan,
kalau ada orang yang kecewa pas dateng ke tempat wisata, gara – gara nggak
sesuai sama ekspektasi yang mereka bayangkan? Nah, saya sendiri juga sempat
mengalami kejadian yang kurang lebih sama seperti itu, saat berkunjung ke Waduk
Kedung Ombo yang terletak di 3 kabupaten di Jawa Tengah ini.
***
Jadi, pagi – pagi
setelah selesai sarapan tapi belum mandi, saya dan dua sahabat saya,
sebut saja namanya Edoardo Yari dan Priyo Canariaz, berangkat menuju Waduk
Kedung Ombo. Berbekal semangat yang menggebu serta rasa penasaran dengan
cantiknya Kedung Ombo, kami mulai memacu kendaraan melewati jalanan beraspal
yang membelah kawasan hutan jati disisi kanan kiri. Tak memakan waktu lama,
kurang lebih sekitar 40 menit perjalanan menggunakan sepeda motor, luasnya
genangan air di Waduk Kedung Ombo mulai terlihat dari atas jalan raya yang kami
lalui.
Berhubung kami
berangkat dari arah Sragen, maka setelah sedikit melihat penampakan Waduk
Kedung Ombo dari jalan, motor dibelokkan ke arah kiri.
Cetik!
(Nyalain lampu sein)
Saya kira, gerbang
masuk dan area tiketing menuju Waduk Kedung Ombo ini berada tak jauh dari jalan
raya yang kami lalui tadi. Tapi ternyata……letaknya masih 3 kilo meter’an lagi.
Waaa, lhakok adoh…
Setelah kurang lebih 5
menit mengendarai motor di jalan yang menurun, sampailah kita di sisi lain dari
Kedung Ombo. Daaaan, kejadian “diluar ekspektasi” itu pun terjadi. Kondisi spot
utama yang ingin kita datangi di Waduk Kedung Ombo, ternyata berbeda jauh
dengan tampilan di ratusan foto yang ada di akun – akun instagram. Jujur, niat awal mengunjungi Kedung
Ombo ini karena ingin berfoto dengan latar belakang hijaunya rumput yang berada
di sekitar waduk. Buat ikutan lomba foto
wisata di Kabupaten Sragen gitu ceritanya. Sekalian stok foto narsis juga,
ding. Ehe…
Tapi kok?
Hedeh-______-
Rumput yang kami kira
berwarna ijo royo - royo seperti di
bukit teletubbies sana, ternyata malah berwarna cokelat – pirang keemasan
karena kepanasan.
Wah, rumput alay ni
pasti.
P.A.S.T.I
WA HA HA HA…
Ini foto yang sering "berkeliaran" di internet dan sosmed |
Realitanya.... |
Dari kejadian ini pun
kita bertiga akhirnya instropeksi diri. Merenung. Bertanya – tanya dalam hati :
“kenapa bisa beda ya?”
Bukan. Ini bukan
salahnya sang rumput. Apalagi salah bunda mengandung *krik*
Oh….ternyata!
Saat saya, Edoardo
Yari dan Priyo Canariaz berkunjung ke Kedung Ombo, daerah sekitaran Solo,
Sragen, hingga Grobogan sana memang belum terkena hujan. Masih musim kemarau.
Tak heran lah kalau warna sang rumput tak sehijau tampilan foto – foto di
Instagram.
Paket Murah, 15 ribu. Hahaha |
Gagal mendapatkan
background foto sesuai rencana awal, kami melanjutkan perjalanan dan
masuk ke kawasan wisata Waduk Kedung Ombo. Setelah membayar tiket masuk sebesar
4000 rupiah per orang, kami mencoba berkeliling disekitar waduk sembari mengamati
beberapa aktifitas warga yang mencari nafkah dan penghidupan di Waduk Kedung
Ombo. Ada yang membersihkan ikan, menjual ikan bakar, dan yang cukup mudah
dijumpai adalah, adanya sekelompok warga yang menyewakan perahunya untuk mengantarkan
para pengunjung yang ingin berkeliling Kedung Ombo.
Dibalik pembangunan
Kedung Ombo…
Dibalik besar dan
luasnya danau buatan ini, ternyata Kedung Ombo menyimpan cerita yang memilukan.
Waduk dengan luas ±5.000 hektar tersebut telah menggusur 5.268 keluarga yang
berasal dari 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten, yaitu Sragen, Boyolali, dan
Grobogan.
Ketika memasuki tahap
pembangunan, banyak warga yang menolak saat akan direlokasi, karena kecilnya
uang ganti rugi yang dibayarkan pemerintah untuk mengganti harga tanah mereka.
Dikutip dari tirto.id, berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1
Jawa Tengah Nomor 593/135/1987, besaran nilai ganti rugi tanah pekarangan yang
terkena proyek Waduk Kedung Ombo di wilayah 3 kabupaten yang terdampak hanya
sebesar Rp 700 per meter.
Bahkan, ketika waduk
mulai digenangi air pada tanggal 14 Januari 1989, masalah ganti rugi lahan ini
pun belum menemui titik terang. Ada 600 keluarga yang masih bertahan dan tetap
tinggal di tengah-tengah genangan air.
Kedung Ombo akhirnya
diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 18 Mei 1991. Warga yang masih
berjuang untuk mendapatkan haknya pun tergusur. Tahun 2001, kelompok warga ini
menuntut Gubernur Jawa Tengah untuk membuka kembali kasus Kedung Ombo dan
melakukan negosiasi ulang untuk ganti rugi tanah. Namun sayang, Pemerintah
Provinsi dan Kabupaten bersikeras bahwa masalah ganti rugi tanah telah selesai.
(T^T) Sediiiiih….
Referensi : https://tirto.id/kejamnya-penggusuran-warga-kedung-ombo-dengan-dalih-pembangunan-cBfv
Foto taken by : Priyo Canariaz (https://www.instagram.com/priyo_permana/)
45 comments
Wah, update di malam yang sama. Ada filling apa ya..haha
BalasHapusSepertinya nama waduh ini nggak asing ditelingaku. Hanya saja melihat dari medsos gitu. Belum datang langsung seperti mas Wisnu ini. Pemandangan rumputnya bagus bet, rasa-rasanya ingin sepedahan disitu.. :D
Apalagi lihat perahu itu, persis sama perahu yang aku naikin di tahun 2017 kemarin. Seru dan menyenangkan naik perahu itu. Apalai bisa sembari melihat temburuk karang dari atas.
Ini Kedung Ombo diresmikan 3 tahun sebelum aku lahir, Mas..he
Bener sih, Mas. Kalau pas musim kemarau pasti rumputnya pada kering, tapi meskipun gitu tetap bisa menginjakkan kaki disitu alhamdulilah ya, Mas.
Sama halnya waktu gowes ke sambisari, pas kemarau jadi rumputnya kurang menawan kalau dijadikan backgorund. Kalau sekarang bukannya lagi musim hujan ya, Mas. Sepertinya rumputnya udah bagus ya?
Wahaha...kebetulan semata.
HapusTapi kayaknya kalau masuk ke area rumput-rumput itu nggak bisa, karena ada larangannya. Pol-polan ya cuma foto di pinggir jalan.
Iya ini, tadi juga baru lihat post-post'an di IG. Rumputnya sudah menghijau lagi
jangan jangaaaaan.. kalian sehati. *kabur*
HapusEhem ada apa ini
HapusYang punya blog baru selesai hibernasi XD
HapusAda cerita sedih dibalik cantik wajahnya :(
BalasHapusCoba kesana lg pas musim penghujan, apa iya nggak sealay itu rumputnya. Masa jauh banget gitu dari ekspektasi,bener2 nggak ada yg hijau 😅
Btw kayak lg baca di blog sendiri ini tampilannya 😂😂
Iya, pas kemaren dulu kesana, bener-bener coklat semua.
HapusWooo, tema gratisannya sama :D
hahaha.. kasian juga udah antusias taunya Zonk!
BalasHapussabar lah, salahnya juga datang di saat rumputnya gersang karna memang bukan musim hujan kan..
tapi tetep nice view kok!!
Satu hashtag buat kasus ini
Hapus#KAMUBELUMBERUNTUNG
Tetep bisa buat seruseruan kan, berguling2 di rumput yang luas. hahaha.
BalasHapusGatel mas
HapusWah rasanya gimana gitu setelah tahu ada kisah sedih di baliknya.
BalasHapusjadi berpikir jangan-jangan tempat-tempat menarik yang selama ini kita kunjungi, banyak di antaranya yang juga menyimpan kisah pilu, yang tersembunyi, yang belum selesai...
Kemungkinan besar begitu mas. Apalagi kalau itu tempat yang biasanya "memakan" banyak lahan. Semacam bandara baru yang di bangun di Kulonprogo itu, mungkin. Masih banyak yang nggak mau pindah aslinya. Tapi ya gimana, namanya juga rakyat kecil. Bakal tetep tergusur juga dari kampung halaman mereka.
Hapusaduh kasian banget ceritanya
BalasHapusmasalah gini ini sampe sekarang banyak yg belum terselesaikan
foto selalu menipu kan
padahal kalau bener ijo buat gulung2 tujuh turunan gak bakal bosen itu
The power of photo power.
HapusSalah waktu juga sih mas. Lha pas panas-panas kemarau, jadinya ya gitu XD
Ketepatan waktu berkunjung juga ya, yang membedakan pemandangan itu bisa bagus atau enggak hehehe
BalasHapusNice post gan
Yes, Gan!
HapusEnding tulisannya sedih gitu, mas :(
BalasHapusBtw meski rumputnya sedang menguning, pemandangannya tetep cakep kok. Dari dulu aku udah atur mindset supaya jangan mengandalkan alam atau keindahan sebagai tujuan wisata. Indah itu relatif, kita bisa kecewa kalau ternyata keindahannya nggak sebagus yang dibayangkan. Yang penting pengalaman dan perjalanannya dapet mas :)
Salam kenal ya.
thetravelearn.com
Saya tau tentang masalah ini juga gegara pas browsing-browsing Kedung Ombo. Niatnya mau nyari foto-foto yang pas rumputnya hijau itu, e malah nemu "kasus" itu.
HapusBener juga sih kalau dipikir-pikir. Kadang lebih memorable / berkesan selama perjalanan menuju spot yang ingin kita tuju, memang.
Salam kenal
Loh justru!!
BalasHapusWah seriusan nih, saya lebih suka banget nget sama foto yang diambil mas Wisnu sendiri. Justru padang runput yang kecoklatan itu lebih terlihat eksotis.
Waktu itu saya ke Lombok dan Sumbawa, agak sengaja nyari waktu musim kemarau supaya rumputnya pas menguning kecoklatan gitu. Justruuuu itu baguss banget, kayak ada vibe Afrika2nya gitu. Soalnya kalo yang ijo2 di Malang udah banyak heheh.
Coba deh lihat foto2 Instagram yang kayak Pulau Padar atau di daerah Sumbawa, Flores, dll pasti tuh banyak yang suka kalo rumputnya kering.
Wah wah, seriusan ini saya. Beneran kudu bersyukur loh. Apalagi langitya biruuu banget.
/maksa banget wkwkwkw/ xD
Begitu ya?
HapusJujur, kalau aku masih lebih menikmati rumput yang warna hijau si, Za. Berasa seger gitu aja. Diliat juga enak. Warna cokelat juga enak, tapi gimana ya? Lebih suka warna ijo gitu aja lah *pietokik* XD
masalah ekspektasi terkadang memang membuat hati nyesek ya mas. tapi menurutku kondisi rumput yang hijau maupun sedang kering atau coklat sama sama cantik, memberikan keindahan dan karakter sendiri.
BalasHapusnah tentang masalah penggusuran waduk kedung ombo malah saya baru tahu, ternyata berlarut larut sampai sekarang, jadi keingat kasuh yang di Jkt tentang masalah penggusuran juga dari jaman dulu sampai sekarang masih belum menemukan titik terang
Sama mas. Saya juga baru tahu pas browsing-browsing di internet beberapa hari lalu. Ternyata dibalik indahnya Kedung Ombo, ada ribuan kepala manusia yang harus rela pindah dari tanah kelahiran mereka
HapusPengin hijau kayak yang bertebaran di IG, Mas Wis? Edit pakai Photoshop wae~ Ubah jadi merah pun boleh. Wq. Yakali.
BalasHapusMendadak sedih pas di akhirnya. Susah emang kalau minta ganti rugi begitu ke pemerintah. Prosesnya lama, belum tentu cair. Lagian, nagih utang ke temen aja sulitnya bukan maen. :(
Nggak sempet. Hahahalesan
HapusNiatnya juga mau gitu, tapi pas di aturan lomba itu ada satu syarat kurang lebih begini : editing sebatas crop, dan blabblabla (agak lupa). Intinya nggak boleh ngerubah warna-warna itulah
mungkin mommentx lagi g pas bang cuacanya..
BalasHapusganti rugi lahan belum ada titik temu ya ternyata disana...
Iya, memang. Pas kesana masih kemarau - panas gitu, jadi rumputnya keliatan coklat
HapusAku juga pernah tuh ngalamin piknik yg tempat aslinya di luar ekspketasi.. Hhh
BalasHapusBtw itu di foto yg berkeliaran di internet adem banget hijau2 gitu yak, tp aslinya..... Emmmm. Wkwkwk
Tapi overall foto2mu keren sih
Aku juga pernah tuh ngalamin piknik yg tempat aslinya di luar ekspketasi.. Hhh
BalasHapusBtw itu di foto yg berkeliaran di internet adem banget hijau2 gitu yak, tp aslinya..... Emmmm. Wkwkwk
Tapi overall foto2mu keren sih
Ngalamin kejadian kaya gini pas piknik kemana mbak?
HapusIya, pas dateng malah warnanya cokelat :(
Terimakasih
Kayaknya sih pernah denger, tapi gak ngeuh. Ternyata tak selamanya foto-foto di sosmed itu berkata jujur ya, buktinya gak sesuai sama ekspektasi. Atau mungkin kalau mau dapetin rumput yang sama persis kayak di foto, datangnya pas lagi musim penghijau kali mas, hehehe....
BalasHapusTernyata pernah bersengketa lahannya ya...
Iya mas, alternatifnya ya gitu. Dateng kesini pas musim penghujan. Biar dapet view sesuai sama foto yang sering bersliweran di akun IG
Hapusloh bukannya malah keren coklt gitu mas. lagian datangnya salah waktu sih seharusnya pas mujim ujan wkwk
BalasHapusIya sih, tapi saya pecinta hijau-hijau. Jadi lebih suka pas warnanya hijau. Hahaha
Hapuswadaw, foto yang atas sama yang bawah bisa jauh gitu ya haha. jadi curiga yang ijo itu editan hehe. Tapi bener juga sih kalau cuaca amat sangat mempengaruhi.
BalasHapusHahaha, bukan. Kalau pas hijau, ya memang penampakannya seperti itu. Bikin seger mata, tapi kalau pas kemarau yaaaaa jadi cokelit
HapusWkwkwk, keturunan orang Meksiko sana ini, May
BalasHapusYes. 10 apa 15 ya? Aku agak lupa sih. Kayaknya 15rebu kok.
Berarti datangnya salah musim ini.. tp mmng kadang gitu kok ya, di foto bagussss...pas di datengi biasa aja..
BalasHapusWaduk ini dibngun pas aku kecil. Iya, dl kayaknya era Soeharto ngotot bnget... Tp pada dikritik, jd tetep jlm terus pembngunannya
Salah datang berarti
BalasHapusapdaha sekarang kan sudah musim penghujan
disana masih kemarau mas wisnu
Kalau musim kemarau memang rumput bakalan menyesuaikan kecuali seperti di luar negeri ada sprinkle untuk menyiram rumput jadi tetap hijau terus deh, luas sekali waduknya moga tetap terjaga
BalasHapusCoba datangnya pas musim hujan, pasti cakep juga tuh kayak di IG-IG.
BalasHapusMungkin bisa dicoba lain kali mas.
kadang gitu, ke tempat wisata dilihat ya biasa aja. biasanya ya karena foto yang bagus dan udah lewati proses edit.
BalasHapusHalo Wisnu, aku baru mampir di blogmu dan sangat menghibur :D Jangan lupa mampir ke blogku juga ya dan follow balik hehe thx u
BalasHapusDari dulu penasaran banget sama Waduk ini. Pengin suatu saat bisa ke sana, gimana pun kondisinya. Haha. Karena bagiku wisata ke waduk itu ada kepuasan tersendiri, apalagi kalau bisa menyusuri waduknya.
BalasHapusWaduk ini aslinya kayak ngga kalah indah dgn Bedugul dan Waduk Sermo Jogja.
Ms arif sudah pernah mengunjungi semua tempat yg ada di blog ini?? Waktu luangnya banyak bgt....
BalasHapusYakin udah di baca? Apa cuma di scroll doang?
Yaudah, yang penting jangan lupa komen yes?
Maturnuwun ^^